Saturday, December 22, 2012

Bila PLN padam, genset tidak running :
a.      Periksa AMF à posisi Auto
b.     Ukur tegangan PLN apakah semua phasenya padam, bila salah satu phasenya ada tegangan walaupun kecil, maka Genset tidak akan hidup, karena ada proteksi.
c.      AMF seting Menu ke Manual.
d.     Periksa tegangan battery Starter à Nominal 13,2 Volt dc, biarkan Voltmeter tetap mengukur.
e.      Engine start Manual, lihat Voltmeter pada Battery minimal 9,3 Volt
f.       Kalau tegangan Battery dibawah 9 Volt saat Start, maka Engine tidak bisa hidup.
g.     Kesimpulannya Battery Rusak, harus diganti.
h.     Pemeriksaan selanjutnya adalah mengecek Battery Charger di Panel AMF, apakah normal, tegangan outputnya 13,8 Volt dc, bila tidak sesuai lakukan pengaturan pada modul Chargernya.
i.       Dynamo Charger pada Engine bisa diukur saat Engine running, outputnya 13,8 Volt.

j.       Bila Tegangan Battery normal, berarti ada kelainan pada sistim starter.
k.     Periksa kabel sambungan ke Dynamo Starter danl Battery apakah ada korosi/ karatan.
l.       Kalau semua kabel dan koneksinya baik, kemungkinan Dynamo starter ada kerusakan, yang paling mendasar adalah pada bagian Contactornya ( Bendik Starter).
m.  Ukur tegangan pada sisi output Bendik yang mencatu Dynamo, kalau tegangan masih normal, ada kemungkinan sikat arang ( brush) yg sudah tipis.
n.     Kesimpulannya Dynamo Starter rusak, harus di service.
Bila genset running, tetapi tegangan listrik tidak keluar atau rendah dibawah standar maka lakukan pemeriksaan sbb :
a.      Periksa putaran mesin ( RPM), normalnya 1500 RPM, dan 50 Hz
b.     Bila putarannya dibawah 1500 RPM, lakukan pengaturan RPM Justment di panel AMF atur sehingga RPMnya normal.
c.      Kalau tidak ada fasilitas justment RPM atau Voltage Just, lakukan pengaturan pada tuas Selenoid Engine, agar putaran mesin semakin naik, kendorkan bautnya dan atur/ putar semakin mendorong tuas, sambil melihat RPM meter.
d.     Bila putaran RPM normal 1500, namun tegangan belum keluar, maka kemungkinan pertama adalah AVR Generatornya rusak, atau sikat arang ( brush) sudah tipis, untuk Generator kapasitas kecil ( 5 KVA). Untuk Generator diatas 5 KVA biasanya tidak mempergunakan brush, tetapi ada kumparan Exiter.
e.      Kerusakan AVR indikasinya tidak ada tegangan output DC sekitar 9,3 Volt, mengukurnya dengan Voltmeter DC pada titik kabel brush atau kutub exiter ( X – Y ).
f.       Bila tidak muncul tegangan pada output AVR, kesimpulannya AVR rusak.
g.     Jalan keluarnya dengan mengganti modul AVR Generator, catat Merk, Type dan Seri Nomornya, untuk memudahkan proses pengadaan.
h.     Kalau tegangan AVRnya normal, kemungkinan kerusakan pada kumparan magnit yang berputar sebagai dynamisator tetapi ini jarang terjadi, untuk memastikan kumparan magnit dengan cara memberi tegangan DC 12 Volt dari Battery, bila didekatkan obeng akan tertarik, berarti kumparannya baik. Atau bisa diukur dengan Ohm meter, putus atau ada nilai resistansinya, sekitar 100-200 Ohm.
i.       Bila diberi tegangan DC kumparan magnit tidak ada respon, kesimpulannya kumparan putus dan harus di service untuk digulung ulang.

Bila genset running, tetapi beberapa saat mati lagi pemeriksaan sbb :
a.      Lihat Display monitor, alarm apa yang muncul.
b.     Bila alarm Overheating, artinya Engine terlalu panas, periksa air radiatornya.
c.      Bila alarm overspeed, artinya RPM terlalu tinggi melebihi 1500, atur justmen RPMnya atau geser baut pada tuas solenoid untuk menurunkan putaran Engine.
d.     Bila alarm over voltage, atur Voltage jusmentnya untuk menurunkan tegangan.
e.      Bisa juga kemungkinan lain, periksa AMF, kondisi Auto apa Manual ?
f.       Pada saat posisi Auto, Genset akan tidak bisa hidup bila listrik PLN sedang ON. Kalaupun Genset bisa Running sesaat, akan mati lagi, karena ada proteksi di AMF.
g.     Matikan PLN di KWH meter dengan break MCBnya.
h.     Beberapa menit kemudian Genset akan Running, bila genset mati lagi, periksa saluran BBMnya kemungkinan ada udara masuk, pompa BBM sampai gelembung udaranya habis, periksa saluran apakah ada bocor, perbaiki.
i.       Cara lain bisa membuka filter BBM, dan buang kedalam ember minyaknya, supaya minyak bisa mengalir dari tangki harian dengan lancar dan setelah itu pasang kembali filternya.
j.       Bila kondisi BBM normal, namun Genset juga mati lagi, periksa tegangan catuan Selenoid, kalau tegangannya hilang maka Genset akan mati. Atau tegangannya ada tetapi Selenoidnya tidak kerja/ tidak mendorong, berarti kumparannya putus.
k.     Kesimpulannya Selenoid rusak dan harus diganti.
Bila genset running, tegangan output normal 220 / 380 Volt, tetapi tidak bisa mensupply beban, pemeriksaan sbb :
a.      Ukur Tegangan Input ATS pada MCCB sisi Genset, R - S, R –T, S – T, normalnya 380 V, dan ukur R – N, S – N, T – N, normalnya 220 V.
b.     Periksa ATS, kondisi Auto apa Manual ?
c.      Pada saat posisi Auto, ATS akan memilih ke PLN, walaupun Genset Running.
d.     Matikan PLN di KWH meter dengan break MCBnya.
e.      Beberapa menit kemudian ATS akan pindah ke posisi Genset.
f.       Bila ATS tidak mau pindah posisi, periksa tegangan pada motor penggeraknya.
g.     Kalau tidak ada tegangan di ATS, periksa MCB dipanel, kalau ada yg break agar di normalkan keposisi On.
h.     Kalau tidak berhasil, ATS di Manualkan, bisa dilakukan tekan tombol ON pada posisi Genset atau pemindahan dengan tuas pendorong kesisi Genset, yg penting beban bisa hidup.
i.       Kesimpulan ada kerusakan pada ATS.
j.       Catat Merk, Type dan Seri Nomornya.
Bila genset running, ATS normal, tetapi Rectifier Fail pemeriksaan sbb :
a.      Ukur Tegangan Input pada ACPDB, R - S, R –T, S – T, normalnya 380 V, dan ukur R – N, S – N, T – N, normalnya 220 V.
b.     Periksa MCCB input dan MCB dibagian outgoing Panel ACPDB jangan sampai ada yang break, dan kekencangan perkabelan, jangan ada yg kendor.
c.      Unkur tegangan output ACPDB yang menuju ke Rectifier, bila tidak ada tegangan, kesimpulannya MCB rusak dan segera diganti.
d.     Kalau tidak tersedia MCB pengganti, bisa mempergunakan MCB yang ada dengan memperhitungkan besarnya beban, asal tidak melebihi kapasitas MCB.
e.      Misalnya ada MCB untuk Air Conditioning, atau MCB Penerangan Gedung atau yang lainnya, bisa diparalel sementara.
f.       Usahakan Rectifer harus hidup, karena perangkat ini termasuk prioritas utama.
g.     Kalau lampu-lampu boleh mati tetapi Rectifier harus didahulukan.
h.     Kesimpulan ada kerusakan pada MCB.
i.       Catat Merk, Type dan Seri Nomornya.

0 comments:

Post a Comment